Tuesday, April 26, 2011

How to Use Assessment Centers to Your Business Advantage

by: BMA Editorial Team 3

To start with, let's look at it from the side of the business owner. Are you familiar with the role of assessment centers in business?

If you want to maximize the productivity of your business then you may well need to use an assessment center to make the most of it. So, why do you need the services of an assessment center?

The Value of Assessing Job Candidates Properly

First of all, an assessment center can help you decide who the right people are for a certain job. For instance, if you want to find a person that will be able to speedily execute a lot of accounting transactions in a given period of time, then you can build into the assessment center to test if they can do that.

Whilst it's possible, if you do this on your own, without testing appropriately, there is a fair chance that you will not get the right person for the job

If you get the wrong person for the job then you will have trouble running the business. You will need to go through the process of hiring someone else, just because you didn't do the job right first time!

If you don't learn from your mistakes, then, without question, you will go on in this cycle over and over again until you find the right person.

And what happens if you do not get the right person for the job? Your business will struggle and you will not be able to grow and prosper. This is why you need the services of an assessment center.

Set up well, an assessment center can readily assess whether a person is right for the job or not.

You May Already Have Great People

Second, you may need to use an assessment center within your business or organization, because apart from looking for the right person for a job, you also need to know who should be promoted. Internal assessment centers can be used for specific jobs, or even when you just want to benchmark your people along the way.

Your business or your company needs to grow and if you want to grow then you need to know which of your existing people are capable of making the company grow.

An assessment center can find out who the right people are when it comes to company growth - who has potential even, such that they will be just right for the future.

If you want to make sure that your business succeeds and grows going forward, then you need to know who to spend time with to prepare for promotion.

People Management Can Be Tricky!

Business can be very tricky because it deals with a lot of human beings. People management is part science and part artform, because human beings can be very complex creatures! If you do not know how to manage people then your business growth will suffer.

With the help of assessment centers internally, you can focus your energies where people need it most - on the people you will get the very best value out of.

By valuing the services of an assessment center to measure capabilities of internal and external people, it will give you a serious helping hand in getting the best from your people, now and in the future.

Assessment Centers - What's There To Lose?

So, if you have not considered the services of an assessment center then you might want to try it now. Do you wonder why your business is not growing, or it puzzles you why certain employees work well together and others don't in your team?

If you want to find answers to questions like this then you will definitely find value in using the services of an assessment center.

Don't wait for all your competitors to overtake you in your business or for your business to start sliding down a slope. Get the best people for now and the future.

Using an assessment center is one way you can do it!

(c) How To Win At Assessment Centers.
http://human-resources-mgt.bestmanagementarticles.com/a-43119-how-to-use-assessment-centers-to-your-business-advantage.aspx

Sunday, March 27, 2011

Encouragement ..

by RHENALD KASALI – Ketua Program MM UI

Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (Excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia ,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum ..

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu.
“Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita. Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya.

Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya.

“Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan ..

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,dapat tumbuh.Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan.

Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti..

- Phillip Lahm Inc. -

Thursday, February 17, 2011

CEO dalam Cracking Zone

kupikir CEO itu orang yg lulus fit&proper test, teruji managerialnya, lama pengabdiannya dibidangnya.ternyata gak cukup.CEO itu orang yg mencintai dan menikahi produk yg dia geluti shg bs lahir produk turunan baru.dan ternyata pengabdian dan percintaan yg.lama blm.tentu kawin dan lahir produk baru.inikah yg dinamakan cracking zone?!

Cracker, bukan Sekedar Leader

saat ini semakin tdk.jelas dr.mana datangnya kompetitor bisnis.Ancol dg Mall apa hubungannya?tp bs jd kompetitor.Manakala dl.team bergerak dg instruksi pimpinan yg jelas spt kompetisi kapal naga, kini butuh inisiatif masing2 individu untuk bergerak maju, krn.makin tdk.jelas dr.mana datangnya kompetitor, ibarat arung jeram, jika tdk.berinisiatif perahu akan keburu tenggelam.

Kompetisi Arung Jeram vs Kapal Naga

saat ini semakin tdk.jelas dr.mana datangnya kompetitor bisnis.Ancol dg Mall apa hubungannya?tp bs jd kompetitor.Manakala dl.team bergerak dg instruksi pimpinan yg jelas spt kompetisi kapal naga, kini butuh inisiatif masing2 individu untuk bergerak maju, krn.makin tdk.jelas dr.mana datangnya kompetitor, ibarat arung jeram, jika tdk.berinisiatif perahu akan keburu tenggelam.

Sunday, May 2, 2010

Beli Rumah dengan Kartu Kredit (part 1)

(Perjalanan Kisah Tragis nan Heroik, demi sebuah Rumah Impian)

Pertama kali saya beli rumah, seperti kebanyakan karyawan pada umumnya adalah dengan KPR. Sudah 5 tahun lamanya saya bekerja, waktu itu sekitar tahun 2007, Jawa-Sumatera-Kalimantan sudah saya jalani, namun ternyata besarnya tabungan saya tidak sama dengan 5 tahun x 12 bulan x besarnya gaji x 1/3, sesuai ajaran luhur orang tua untuk menabung minimal 1/3 dari penghasilan kita. Yang terjadi setelah saya 5 tahun bekerja adalah 6 bln x besar gaji x ½, dalam artian begitu “kepepet-terdesak” dan sadar bahwa hidup butuh rumah dan rumah bisanya kredit, sementara kredit butuh DP (dow payment-uang muka), maka rumus kilat DP saya ketemu 6 bln x besar gaji x ½. Singkat kata DP 10 juta, KPR Subsidi pemerintah saya dapatkan.

“Proses berikutnya, nanti bapak akan dihubungi pihak bank,” begitu kata customer service developer dimana saya ajukan kredit KPR, setelah saya kirimkan semua berkas yang diminta.Namun..apa yang terjadi ?” hampir setahun saya menunggu proses lebih lanjut, setiap kali bertanya ke developer, jawaban di atas yang terulang.

“Bapak harusnya mengecek dulu, rumah yang mau dibeli bentuknya seperti apa, bangunannya sudah ada apa belum, dsb.” Ibarat beli motor, kan barangnya dilihat dulu, bukan hanya sebatas site plan, ” begitulah kata petugas Bank yang kami temui, serasa seperti petir di siang hari,” Rumah yang mau bapak beli itu, tanahnya masih sengketa”jadi semua berkas pengajuan dari developer juga belum bisa kami terima.” Lanjut petugas Bank.

Hangus sudah rumah impian, yang sedianya akan saya jadikan hadiah pernikahan untuk istri saya.Proses lama dan berlarut-larut memaksa saya (dan mungkin juga ratusan orang yg.menurut info developer sudah mengajukan proses) melupakan mimpi tersebut. The show must go on, pelajaran pertama aku dapatkan”Beli rumah dilihat bangunannya dulu, bukan hanya site plan (gambar)”, dan untuk mendapatkan pelajarn tersebut seharga DP rumah.Ibarat pepatah jawa, “Untung DP-ku baru angsuran pertama”.

Waktu kian berlalu, bayang2 beli rumah di developer yang kemarin masih membekas. Disuatu pagi yang cerah, Kepala Cabang dimana saya bekerja, mengajak saya melihat rumah yang sudah dia incar sebelumnya.Untuk menghindari cerita saya terulang, singkat cerita, kolega kantor tsb.saya tawari cek kejelasan status perumahan yang ditawarkan.Kebetulan saya msh.ada saudara di salah satu bank yang kerjasama dengan developer tsb.

“Developernya jelas itu, Yud..sudah ada 15 unit dari 100 rumah yang realisasi”Ambil aja, saya pesankan 2 unit, 1 buat temen kantor, 1 buat kamu.Kebetulan kmr.ada tolakan bank 3 unit, jadi bangunannya sudah jadi, ambil yang itu saja.” Begitulah kakak sepupu saya yang bekerja di bank tsb.bilang, dan akhirnya kami pun dipesankan unit, dan janji ketemu 2 hari kemudian.
“Berhubung rumah yang bapak pesan sudah jadi, dan bapak sudah lihat sendiri rumahnya, maka kami minta maksimal 1 minggu setelah ini, bapak harus melunasi DP-nya. Harga rumah 80 juta (harusnya harga baru sdh.90 juta, dari harga awal buka, 1,5 tahun yang lalu:60 juta), DP 20 juta, jadi KPR bapak 60 juta, kalo persetujuan pihak bank dibawah 60 juta, maka bapak harus membayar sisanya cash.”begitulah developer dengan posisi tawar yang diatas saya menjelaskan.

“Gmn.Pak? diambil?” kolega yang kepala cabang tadi meminta pertimbangan saya.
“Ambil aja Pak..” spontan otak kanan saya merespon. Padahal otak kiri saya langsung mereply” uang darimana?”Bukankah kmr.habis buat resepsi nikah?”. Ah gimana nantilah..“Saya cuma ingat kata guru pengusaha saya, bahwa salah satu kesalahan yang masih bisa diampuni adalah kesalahan dalam membeli rumah, karena harga rumah akan senantiasa naik.”

Dateline bayar DP KPR adalah Senin. Sampai dengan Hari Jum’at belum satupun ide yang muncul buat bayar DP. Bener-bener buntu. Yang ada di 75 % otak saya cuma 5 buah kartu kredit dengan plafon Rp.3.500.000 per kartu.total Cuma Rp.17,5 juta, gak cukup..!! lagian apakah biaya sudah selesai? Bukankah msh.ada biaya realisasi KPR? Ah…biaya DP aja blm.selesai, ngapain mikir biaya realisasi.Tapi…gimana bayar kartu kreditnya kl.aku pake semua?Bukankah gajiku juga cuma Rp.3.5 juta? Dan bukankah sisa tagihan periode seblumnya msh.6.5 juta? Otak kiri ku langsung send message “Nggak Mungkin..!!”.

Dalam teori The Power of Kepepet, otak bawah sadar kita akan bekerja optimal, mengembang lebih besar dari yang ada, menembus batas yang tidak mungkin di sentuh oleh kondisi normal. Segala panca indra, seolah tak lagi berfungsi pada posisinya.
Dengan muka tembok, dan kulit badak, aku pinjam orang tua, msh.kurang aku pinjam mertua, sesuatu yg.gak mngk.dilakukan pd.kondisi normal, gmn.mngk.seorang menantu pinjam mertua di saat tenda resepsi pun blm.usai dibongkar??!.

8 juta dari orang tua, 7 juta dari mertua, sisa 5 juta, klop aku gesek kartu kreditku (cash advance/gesek tunai), dan beres...hari minggu aku selesaikan project ngutangku, dan senin aku bereskan DP ku 20 juta.Hari-hariku dalam menanti realisasi KPR dipenuhi dengan tagihan kartu kredit.Dan....alamak...biaya realisasi KPR msh.7 juta-an lagi?Lengkaplah sudah, akhirnya 4 kartu kredit aku gesek, tinggal satu kartu yang tersisa. Dan memang dalam teori manajemen kartu kredit, salah satu bunyinya” dalam siklus hutang kartu kredit, minimal harus ada satu kartu dengan posisi tidak terpakai, dan pemegang kartu harus punya penghasilan setidaknya sama dengan nominal hutang satu kartu yang digesek”.

Dan begitulah, akhirnya...sebuah rumah mungil, bisa aku dapatkan, istri dan karunia seorang anakpun patut saya syukuri sebagai penghuni rumah, walaupun ”luka” kartu kredit itupun masih aku alami sampai saat ini, hampir 2 tahun kemudian. Namun, bereskah urusan KPR saya?Bagimana dengan nasib KPR saya sebelumnya? Simak dalam cerita heroik edisi berikutnya.

Friday, April 30, 2010

TIPS Keluar Dari Cengkraman Kemiskinan

By Kevin Wu*

Sebuah harian sore nasional yang terbit di Jakarta pada
15 Agustus 2003 menulis begini tentang Hari Dharmawan, pendiri Matahari
Departemen Store;

“Saya menyebut Hari Dharmawan sebagai ”The Legend”. Saya
kira ia pantas disebut seperti itu karena prestasi bisnisnya selama 40 tahun
lebih. Ukuran yang sederhana bisa kita pakai untuk melihat sukses Hari adalah
semua orang mengenal Matahari sebagai jaringan ritel raksasa di Indonesia. Kata
matahari bukan saja diasosiasikan sebagai sumber cahaya dan energi, tetapi juga
sebuah ritel yang ada di mana-mana. Kini, meski sang legenda sudah 62
tahun, tetapi geloranya dalam menyampaikan gagasannya masih seperti orang muda.
Saya kira, semangat bisnisnya juga masih menggelora seperti bicaranya. Saya
melihat Hari Dharmawan seperti seorang yang tidak pernah kering energinya. Hal
seperti inilah saya kira yang membuatnya sukses, di samping kecerdasan, kerja
keras, dan merintis usaha ini dari kecil sekali.”

Siapa yang tak kenal Departement Store Matahari? Ritel
untuk kalangan menengah atas ini berada di 86 lokasi yang sebagian besar
tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surbaya, Medan, dan
Jogjakarta. Ritel ini termasuk yang paling diminati masyakarat karena kualitas
barang dan harga jual yang bersaing. Melalui PT. Matahari Putra Prima
Tbk, perusahaan yang menaungi Matahari, Hari juga mengelola 45 hypermart dan 90
timezone, arena bermain untuk anak-anak. Bahkan pada 2003, Hari mendirikan
ritel yang sangat unik, Value Dollar, sebuah ritel yang semua barangnya dijual
dengan harga Rp5.000.

Kerja keras dalam merintis usaha, energi yang melimpah,
semangat yang tak pernah padam, dan kecerdasan merupakan aset pribadi yang maha
penting untuk mencapai sukses. Tak ada keberhasilan yang dapat diraih tanpa
kerja keras dan semangat pantang menyerah. Apalagi jika usaha dirintis dari
nol. Jangan pernah berharap dengan usaha dan kemauan yang sedikit, akan
dihasilkan sesuatu yang besar yang mendorong Anda untuk sukses. Jika seorang
petani tidak bekerja keras untuk merawat padi yang ditanamnya, dia mungkin akan
gigit jari karena sebelum masa panen tiba, padi telah rusak diserang hama.

Quality
Implementation (QI) Person yang merupakan bagian dari prinsip besar QI Leadership,
mengajarkan, untuk sukses, kita harus menginvestasikan aset kita, baik yang
berbentuk uang (materi), waktu, diri kita sendiri, dan orang-orang di sekitar
kita. Mengapa waktu, diri kita, dan orang-orang di sekitar kita perlu
diinvestasikan juga?

Jika kita menginvestasikan waktu kita, maka kita akan
berfikir bagaimana caranya menggunakan waktu dengan sebaik mungkin, sehingga
tak semenit pun terbuang sia-sia dan tidak mendatangkan manfaat bagi hidup
kita, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Ingat, tujuan orang
berinvestasi adalah mendatangkan keuntungan dari apa yang ditanamkan. Maka
jadikan waktu Anda sebagai aset yang dapat mendatangkan keuntungan bagi Anda,
yakni sukses. Hari Dharmawan telah memberitahukan caranya, yakni dengan bekerja
keras, sehingga sehingga Matahari menjadi salah satu ritel terbesar di Tanah
Air.

Bagaimana cara menginvestasikan diri sendiri?

Tuhan menganugerahi kita dengan akal, kecerdasan,
kekuatan, pengetahuan, dan sebagainya. Gunakan potensi-potensi ini untuk
membuat Anda sukses. Caranya, tentu saja, manfaatkan potensi tersebut untuk
hal-hal yang dapat mendorong Anda mencapai sukses itu, dan tinggalkan prilaku
atau kebiasaan yang justru akan menjerumuskan Anda pada jurang kegagalan. Jika
kita merujuk pada biografi Hari, sang Legenda itu menggunakan kecerdasannya
untuk menciptakan ide-ide brilian yang membuat perusahaannya berkembang dan
terus berkembang. Anda pun bisa seperti itu.

Menginvestasikan orang-orang di sekitar Anda?

Oho, jangan bingung, karena siapapun yang berada di sekitar
Anda merupakan aset yang dapat mendorong Anda untuk sukses. Jika Anda bergaul
dengan orang-orang yang sukses, Anda akan termotivasi untuk seperti mereka.
Jika Anda bergaul dengan orang-orang yang gagal, urakan, dan berengsek …? Hmm
…. Maka penting bagi Anda untuk menginvestasikan kehidupan sosial Anda pada
lingkungan yang tidak mendorong Anda pada kehidupan yang akhirnya hanya akan
merugikan diri Anda. Namun demikian ingat petatah petitih ini; “Penting
bagi Anda untuk mengenal orang yang telah sukses. Namun lebih penting lagi jika
orang itu mengenal Anda dan tahu bahwa Anda memiliki kredit point yang bagus”.
Mengapa? Jika Anda mengenal orang yang sukses dan orang itu tahu Anda termasuk
tipe orang yang plus plus, maka bukan mustahil dia akan mengundang Anda ketika
dia membutuhkan partner kerja.

Hasil akhir yang berkualitas dimulai dari implementasi
yang berkualitas (Quality implementation / QI).


Semoga
bermanfaat,

Kevin Wu
ResultConsultant

Managing Director
CoreAction Result Consulting
www.qi-leadership. com
www.thecoreaction. com